Peran Pemerintah dan Masyarakat untuk Terwujudnya Indonesia Bebas Pasung

  • 0

Peran Pemerintah dan Masyarakat untuk Terwujudnya Indonesia Bebas Pasung

Oleh: Alisya Putri

 

Indonesia mengalami kemajuan dalam pembangunan di berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya di bidang ekonomi, terdapat peningkatan dalam berbagai aspek pada sumber daya manusia. Pada pendapatan kotor nasional atau Gross National Income (GNI) per kapita naik dari USD 80 pada 1970 menjadi USD 2500 pada 2010 ( The World Bank, 2012)

Kemajuan dalam berbagai bidan dan berkembangnya teknologi dibarengi dengan permasalahan gangguan mental yang memprihatinkan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Nasional (Riskesnas) yang dikeluarkan Kementerian pada 2013 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan tercatat sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas, atau jumlahnya sekitar 14 juta orang. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia adalah 1.7 per 1,000 penduduk atau sekitar 400,000 orang.

Seseorang yang mengalami gangguan jiwa atau disebut orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sering mendapatkan diskriminasi dari masyarakat seperti dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan dari masyarakat, dan lain – lain karena dianggap gila, meresahkan dan dapat membahayakan masyarakat. Untuk mencegah dan mengatasi permasalahan tersebut, sebagian masyarakat mempunyai berbagai macam cara. Ironisnya, sebagian masyarakat masih menggunakan metode lama dimana seseorang diisolasi di suatu tempat yang disebut dengan Pasung.

Human Right Watch (2016) mendefinisikan bahwa pasung adalah satu bentuk cara tradisional berupa berupa mengikat orang atau menguncinya di kamar, gudang, atau kurungan atau kandang hewan (termasuk kandang ayam kandang babi, atau kandang kambing) selama beberapa jam tapi bisa pula berhari-hari hingga bertahun-tahun tanpa akses pada perawatan kesehatan jiwa dan layanan pendukung lain, untuk membatasi orang yang dianggap atau mengalami disabilitas psikososial di dalam atau di luar rumah.

Terdapat beberapa faktor yang menjelaskan mengapa metode pasung masih dipergunakan hingga saat ini. Pertama, masalah ekonomi. Hasil analisis lanjut Riset kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013 menunjukkan bahwa status ekonomi merupakan faktor yang paling dominan pengaruhnya pada pemasungan yang dilakukan di rumah tangga terhadap orang dengan gangguan jiwa berat. Sebagian besar masyarakat yang masih memakai cara pasung berasal dari wilayah pedesaan dimana mereka tidak mempunyai biaya untuk pengobatan.

Faktor kedua adalah kurangnya pengetahuan keluarga atau institusi tentang gangguan mental meliputi diagnosis, gejala, penyebab, pengobatan, progress suatu penyakit, dan lain lain. Selain itu ketidaktahuan masyarakat fasilitas kesehatan dan aksesnya yang jauh membuat masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah cenderung mendatangi dukun atau panti yang justru memungkinkan mereka untuk dipasung.

Meskipun hukum di Indonesia melarang keras pemasungan sejak tahun 1977 dan adanya kampanye Indonesia Bebas Pasung oleh Dinas Kesehatan sejak 2011, masih ada 18.000 orang yang masih dipasung di Indonesia. Setidaknya, begitulah yang dilaporkan oleh Human Rights Watch (HRW). Mirisnya, di banyak negara berkembang, terutama Indonesia, kesehatan mental masih belum menduduki prioritas di bidang kesehatan.

Pemasungan ODGJ berat memperburuk kondisi fisik dan kejiwaan, seperti atrofi, dimana otot kaki akan mengecil sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik serta gizi buruk. Lingkungan tak sehat akibat aktivitas hidup di satu tempat membuat penderita rentan penyakit lain. Sehingga, Pemasungan bukannya solusi dari permasalahan terhadap seseorang dengan gangguan jiwa karena efek yang ditimbulkan justru memperburuk keadaan penderita.

Ada Cara Lain untuk Menyembuhkan Orang dengan Gangguan Jiwa

Kesehatan mental merupakan suatu kondisi dimana kuantitas dan kualitas individu yang sehat baik dari segi psikologis, mental, spritual, fisik, perilaku dan sosial. Tidak hanya sembuh dan terbebas dari gangguan jiwa, kesehatan mental juga penting untuk mengoptimalkan bahkan mengatasi seseorang dari gangguan mental yang lebih parah sehingga mereka dapat berpikir, bertindak, dan melakukan aktivitas sehari – hari dengan normal.

Kesehatan mental mempunyai kedudukan sama pentingnya dengan beberapa aspek kesehatan lainnya. Hal ini dikarenakan menjadi indikator penting dalam kualitas, kebahagiaan dan kesiapan manusia dalam lingkungan. Dengan kondisi yang sehat secara fisik, psikologis dan sosial, individu tentunya mampu melakukan aktivitas, berpikir, beradaptasi, dan bekerja dengan baik.

Dalam kasus pemasungan, Orang yang mengalami gangguan jiwa tetaplah seorang individu, sama seperti manusia normal meskipun ia сделать mengalami cheap nfl jerseys kelainan dimana pada situasi tertentu, ia tidak dapat membedakan hal nyata dan ilusi atau biasa disebut dengan istilah. Kita tidak perlu memperlakukannya bagaikan makhluk lain. Hal ini tercantum dalam Undang – Undang Hak Asasi Manusia pasal 42 yang berbunyi:

“Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

Untuk terwujudnya program Indonesia bebas pasung pada tahun 2019, diperlukan peran dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Penanganan gangguan mental harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak Ray Ban Sunglasses hanya berpusat di ibu kota wholesale nfl jerseys provinsi bahkan kota besar karena sebagian penderita berada di wilayah pedesaan. Sehingga pengobatan dapat dilakukan secara optimal.

Rehabilitasi berbasis masyarakat ialah salah satu program kampanye “Indonesia Bebas pasung” yang penanganannya dilakukan di rumah atau lingkungan sekitar dengan penderita gangguan jiwa. Selain itu, tim ini juga memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai penyakit dan cara Wholesale Jerseys penanganannya. Program ini sangat terbantu dan bermanfaat bagi masyarakat perdesaan yang tidak atau kurang mempunyai akses dan fasilitas kesehatan.

Tetapi, penyembuhan seseorang dengan gangguan jiwa dapat optimal dan keberhasilan program kampanye bebas pasung tidak lepas dari dukungan keluarga. Mereka merupakan agen utama dari seseorang sebelum melakukan aktifitas di masyarakat. Dukungan serta cara penanganan yang baik dapat meningkatkan kepercayaan individu bahwa ia dapat kembali hidup normal.

Gangguan jiwa di Indonesia masih tinggi. Hal ini dibarengi dengan masih adanya keluarga dan masyarakat melakukan praktek pasung. Saat ini, 18.000 jiwa yang masih diisolasi dengan diikat bagian kaki atau tangan. Pasung bukan solusi yang baik karena dapat memperburuk kondisi penderita baik secara psikis, fisik dan mental. Oleh karena itu, perlu adanya fasilitas dan akses kesehatan sampai ke desa dan yang paling penting ialah dukungan dan penanganan yang baik dari keluarga. Sehingga, penderita dapat hidup normal.

 

 

 

DAFTAR Cheap Jordan Shoes PUSTAKA

 

Human Rights Watch. 2016. Hidup di Neraka: Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Psikososial di Indonesia ( Edisi Terjemahan Bahasa Indonesia). New York; Human Rights Watch

 

 

 


Leave a Reply