Kebijakan Produksi Minyak Saudi Arabia dalam OPEC pada Turunnya Harga Minyak Global tahun 2014

  • 0

Kebijakan Produksi Minyak Saudi Arabia dalam OPEC pada Turunnya Harga Minyak Global tahun 2014

Oleh: Neta Cynara Anggina

 

Latar Belakang

Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merupakan sebuah organisasi dalam bentuk kartel yang memiliki peran dalam mengontrol sumber minyak beserta harganya dalam pasar global. Berbeda dari kartel pada umumnya, organisasi ini terdiri dari tiga belas negara berdaulat penghasil minyak; yaitu Algeria, Angola, Ekuador, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Saudi Arabia, United Arab Emirates, dan Venezuela. Masing-masing negara setuju untuk menetapkan kuota produksi yang kurang dari jumlah yang akan diproduksi dalam kondisi pasar kompetitif. Kuota ini yang menjadi instrumen OPEC dalam mengontrol harga minyak di pasar, yakni suatu monopoli kolektif berdasarkan ekspektasi¾dengan membatasi kuota supply, harga minyak akan naik. Demand atas energi karena kegiatan ekonomi juga turut membatasi fluktuasi harga minyak.

Saudi Arabia merupakan negara anggota dengan kapasitas produksi terbesar dalam OPEC dengan tingkat 9.8 MB/d pada tahun 2009 dan eksportir terbesar dengan menguasai 18% dari total cadangan minyak di dunia. Dengan kapasitas yang besar, Saudi dapat mengambil peran sebagai swing producer yakni negara pemasok yang dapat memengaruhi pasar dengan menaikkan atau menurunkan produksi sesuai keinginannya. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa keputusan Saudi dalam memotong atau meningkatkan kuota produksi akan sangat berpengaruh terhadap harga minyak global.

Pada tahun 1998, terjadi krisis finansial global Asia yang menyebabkan konsumsi minyak berkurang. Pada saat yang bersamaan, OPEC sedang meningkatkan kuota produksinya dari 2.5 menjadi 27.5 juta barrel per hari. Meningkatnya supply dan menurunnya demand ini secara signifikan menyebabkan penurunan harga minyak hingga mencapai angka US$18 per barrel. Untuk memulihkan harga, OPEC memotong kuota produksinya sebanyak 3 juta barrel per hari. Hal ini menyebabkan pulihnya harga minyak pada awal tahun 1999 menjadi US$25 per barrel. Fluktuasi tingkat harga dan produksi minyak pada periode ini dapat dilihat pada grafik berikut.

 

 

Gambar 1.1 Tingkat harga dan produksi minyak negara-negara OPEC pada tahun 1990-2007

(sumber: WTRG Economics)

Namun, kebijakan yang sama tidak diambil ketika merespon penurunan harga minyak yang dimulai pada tahun 2014. Setelah lima tahun berada pada posisi stabil US$114 per barrel, harga tersebut turun sebesar lebih dari 40% per Juni 2014. Penurunan ini memiliki pola-pola kausal yang sama dengan penurunan harga pada tahun 1998, yaitu supply yang meningkat dan demand yang menurun. Pada periode ini, negara-negara non-OPEC seperti AS mulai memproduksi minyak dan menyebabkan oversupply dalam pasar. Pada saat yang sama, negara-negara Asia yang umumnya menjadi konsumen mengalami pertumbuhan ekonomi yang lambat dan depresiasi mata uang¾sehingga melakukan pemotongan subsidi energi. Beberapa konsumen besar energi yang demand-nya menurun seperti Indonesia sebesar 3%, Thailand 2.6%, Malaysia 2.3%, serta India 2.3%.

Pada pertemuan di Wina pada November 2014, negara-negara OPEC memutuskan untuk tidak memotong kuota produksi. Keputusan ini didorong terutama oleh Saudi Arabia yang memiliki peran signifikan dalam mengontrol harga minyak di pasar global. Implikasi dari keputusan tersebut adalah harga yang semakin menurun hingga mencapai angka di bawah US$70 per barrel. Dari grafik di bawah, dapat dilihat tingkat produksi minyak yang

stabil cenderung naik dengan tingkat harga yang turun drastis pada periode tahun 2014.

 

Gambar 1.2 Tingkat harga dan produksi minyak negara-negara OPEC pada tahun 2001-2015

(sumber: The Economist)

Perbedaan respon negara-negara OPEC, khususnya Saudi Arabia, terhadap penurunan harga minyak global pada tahun 2014 kemudian menimbulkan pertanyaan bagi penulis. Berdasarkan pemaparan di atas, tulisan ini berusaha menjawab “Mengapa Saudi Arabia tidak menurunkan produksi di tengah menurunnya harga minyak global pada periode tahun 2014?”

 

Kerangka Konsep

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini akan menggunakan konsep-konsep ekonomi politik internasional dalam OPEC yang diapaparkan oleh David N. Balaam dan Michael Veseth pada bab “The IPE of OPEC and Oil” dalam buku “Introduction to International Political Economy”.

Dalam bab tersebut, Balaam dan Veseth menggarisbawahi empat tensi utama dalam ekonomi politik internasional dalam OPEC dan isu energi; yaitu bahwa [1] dunia kini lebih bergantung satu sama lain. Ketika membicarakan minyak, akan sangat mudah melihat bagaimana dorongan sosial, ekonomi, dan politik di luar negara, organisasi internasional, dan perusahaan bisnis transnasional memengaruhi kebijakan mereka; [2] Isu-isu sosial, ekonomi, dan politik yang berhubungan dengan minyak sangat terjalin dengan erat dan bahkan sulit dibedakan; [3] kasus minyak menunjukkan bahwa isu ekonomi politik internasional memiliki lingkup global¾beragamnya aktor-aktor yang terlibat dan berinteraksi secara keseluruhan, tidak hanya relasi di antara beberapa aktor saja; dan [4] negara, masyarakat, maupun pasar tidak dapat menentukan sendiri hasil dari dunia yang global dan interdependen ini.

Semenjak minyak menjadi energi yang vital bagi kehidupan negara, negara-negara dengan cadangan minyak besar mendominasi pasar minyak. Dengan ini, distribusi kekayaan global berubah sebab berkonsentrasi pada dua belas negara anggota OPEC. Terdapat beberapa perusahaan di luar kartel, tetapi tidak dapat mendominasi pasar. Monopoli ini memberikannya kendali untuk mengontrol harga pasar dengan strategi kuota produksi minyak. Namun, fluktuasi harga minyak pada tahun 1998 menunjukkan bagaimana OPEC tidak sepenuhnya lagi mampu mengontrol harga minyak sebab pada periode tersebut kenaikan harga tetap tidak mencapai harga semula¾terlepas dari lonjakan-lonjakan harga yang terjadi pada jangka pendek. Strategi yang kemudian diusung OPEC adalah meminta negara produsen non-OPEC seperti Rusia, Meksiko, dan Norwegia untuk mendorong kembali harga dengan turut serta membatasi produksi mereka. Balaam dan Veseth menyatakan bahwa antara negara eksportir OPEC, non-OPEC, perusahaan minyak, dan negara importir menciptakan suatu rezim minyak yang menjaga harga minyak relatif stabil dan nfl jerseys cheap menyeimbangi kepentingan politik dan sosiokultural yang bertentangan di antara aktor-aktor ini.

Dari pemaparan tulisan Balaam dan Veseth di atas, penulis menggarisbawahi konsep ekonomi politik internasional yang esensial dalam membantu menjawab pertanyaan. Menurut keduanya, kebijakan negara terhadap minyak didorong oleh faktor-faktor ekonomi, politik, dan sosial yang saling terkait sebab minyak merupakan sumber energi yang vital bagi negara. Penulis memahami faktor-faktor pendorong ini sebagai komponen kepentingan nasional yang dimiliki negara, terutama negara-negara yang memiliki cadangan minyak besar seperti negara anggota OPEC. Namun, di tengah-tengah dorongan kepentingan nasional ini, Balaam dan Veseth mengungkapkan bahwa negara¾seberapa besarpun cadangan minyaknya¾tidak dapat secara tunggal menentukan hasil ekuilibrium dalam pasar minyak sehingga diperlukan interaksi antaraktor untuk menentukannya.

Faktor-faktor multidimensi yang menjadi kepentingan nasional inilah yang penulis rasa dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai kebijakan Saudi Arabia sebagai pemain dominan dalam OPEC. Pembahasan dengan konsep ini merefleksikan perspektif merkantilisme dalam isu energi; yakni bahwa energi menjadi sumber kekuatan internal negara-negara yang memiliki akses untuk digunakan dalam sistem internasional, dan negara importir maupun eksportir perlu menyetir pasar untuk memberikan keuntungan maksimal bagi negara. 

 

Model Analisis

Kepentingan Saudi Arabia

Kebijakan OPEC

 

Dalam menganalisis motif dibalik kebijakan Saudi Arabia, penulis akan membahas keadaan pasar ketika harga minyak turun dimulai pada tahun 2014 dan pertimbangan-pertimbangan apa saja yang diambil Saudi Arabia beserta implikasinya bagi negara-negara anggota OPEC.

Shale Oil Boom Amerika Serikat dan Oversupply dalam Pasar Minyak

Pada tahun 2014, alasan yang menjelaskan turunnya harga minyak secara signifikan adalah oversupply dalam pasar, diiringi dengan demand growth yang berkurang karena pemulihan dari krisis finansial global 2008 yang lambat. Saat itu, sudah terdapat beberapa negara non-OPEC yang juga menjadi produsen minyak dengan jumlah produksi stabil, namun ledakan shale oil Amerika Serikat memberikan dampak besar pada perubahan pasar.

Amerika Serikat merupakan negara importir minyak dengan tingkat dependensi tertinggi pada tahun 2005. Namun, posisi tersebut berubah sejak berkembangnya teknik pengeboran horizontal dan rekah hidrolik di AS yang memampukan dilakukannya eksplorasi dan eksploitasi shale oil¾jenis minyak yang sulit diekstraksi sebab berada di dalam serpihan dengan permeabilitas rendah. Ekstraksi minyak ini berkembang pesat hingga pada tahun 2013 mencapai produksi sebesar 3.5 mb/d, tiga kali lipat jumlah produksinya pada tahun 2010. Peningkatan produksi shale oil ini disebut-sebut sebagai penggerak utama peningkatan suplai minyak non-OPEC, sebab total peningkatan selama Juni-Desember 2014 sebesar 1.5 mb/d, dengan bagian AS sebesar 0.6 mb/d.

Gambar 2.1. Tingkat produksi minyak global dan AS pada tahun 2014

(sumber: EIA dan Federal Reserve Bank of St. Louis)

Peningkatan produksi tersebut juga mengindikasikan bergeraknya AS ke arah energy-independent, menurunkan impor minyaknya kepada negara OPEC seperti Nigeria, Algeria, dan Angola kepada tingkat terendah selama satu dekade terakhir. Implikasi lainnya dalam pasar minyak adalah mengurangi porsi demand minyak mentah OPEC¾dilansir dari World Oil Outlook 2014, global demand OPEC per tahun 2018 diekspektasikan turun sebesar 1.5 juta barrel per hari menuju 28.5 juta barrel per hari karena pesuplai shale oil diluar antisipasi. Segala implikasi ini terjadi seiring dengan penurunan harga minyak dunia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah beberapa perusahaan minyak AS tetap meningkatkan produksinya di tengah-tengah lingkungan harga serendah US$70 per barrel pada tahun 2014. Perusahaan minyak nonkonvensional seperti cheap nfl jerseys shale oil masih dapat bertahan pada tingkat harga US$50 karena efisiensi pengeborannya¾adanya kemampuan pengeboran yang lebih baik, pemanfaatan horsepower yang lebih efisien, serta teknologi yang mengurangi waktu pengeboran. Selain itu, beberapa produsen juga berfokus pada ‘enhanced completion’ yaitu memompa sejumlah besar pasir ke dalam reservoir yang dapat meningkatkan produksinya.

 

Kebijakan Saudi Arabia dalam OPEC

Harga minyak yang rendah tentunya akan merugikan negara-negara importir, terutama mereka yang sumber pendapatan utamanya berasal dari industri minyak.

 

<img class="wp-image-340 aligncenter" src="http://isafis.org/wp-content/uploads/2016/12/WMC6.png" alt="" width="432" height="287" srcset="http://isafis.org/wp-content/uploads/2016/12/WMC6.png 맛있는 566w, http://isafis.org/wp-content/uploads/2016/12/WMC6-300×199.png 300w” sizes=”(max-width: 432px) 100vw, 432px” />

Gambar 2.2 Harga minya per barrel yang dibutuhkan negara OPEC untuk menutupi budget deficit (per 2014)

(Sumber: The Wall Street Journal)

Dari data tersebut, penulis melihat bahwa penurunan harga minyak yang mayoritas didorong oleh oversupply industri shale oil memberikan dampak yang tidak merata bahkan dalam sesama negara anggota OPEC. Terdapat negara-negara yang sangat bergantung pada industri minyak sebagai penghasilan utama; seperti Venezuela, Algeria, dan Nigeria. Dengan harga minyak per barrel berkisar pada US$ 70-90 per barrel, negara-negara tersebut masih harus berusaha menutupi budget deficit-nya. Berbeda dengan Saudi Arabia yang tidak terlalu bergantung¾harga tersebut tidak terlalu merugikan mereka.

Untuk mengambil langkah dari harga minyak dunia yang terus menurun, diadakan pertemuan OPEC di Wina pada akhir 2014. Dalam pertemuan tersebut, Saudi Arabia bersama aliansi negara teluk menginisiasikan untuk tidak dipotongnya kuota produksi guna mengurangi oversupply dan membawa kembali harga minyak pada tingkat normal. Menteri Perminyakan dan Mineral Saudi Arabia, Ali Al Naimi, menyatakan bahwa OPEC tidak dapat lagi secara tunggal mengontrol harga dengan mekanisme pemotongan atau penaikkan kuota produksi. Menurutnya, telah terdapat supply oleh produsen non-OPEC yang signifikan dengan harga produksi tinggi seperti shale oil yang kini menjadi rival besar dalam pasar minyak. Penaikkan harga minyak hanya dapat terjadi dengan mengupayakan agar supply non-OPEC tersebut juga berkurang.

Inisiasi ini tentunya mendapat resistensi dari beberapa negara yang sangat bergantung dengan industri minyak. Namun, pada akhirnya disepakati bahwa OPEC akan tetap memproduksi minyak sebanyak 30 juta barel per hari¾setidaknya meningkat satu juta barel di atas perkiraan demand minyak OPEC untuk tahun depan. Venezuela, sebagai salah satu negara yang harus menanggung budget deficit paling besar karena harga rendah, menerimanya sebagai suatu keputusan kolektif, dan berharap agar keputusan ini benar-benar dapat menekan supply non-OPEC. Seperti dilansir dari Reuters, berikut merupakan pernyataan Menteri Luar Negeri Venezuela, Rafael Ramirez:

 

We are together… OPEC is always fighting with the United States because the United States has declared it is always against OPEC… Shale oil is wholesale nfl jerseys a disaster as a method of production, the Wholesale Jerseys fracking. But also it is too expensive. And there we are going to see what will happen with production.”

 

Dari pernyataan tersebut, penulis melihat bahwa strategi yang diambil OPEC dalam mengupayakan pengurangan supply non-OPEC adalah dengan menekan harga agar produksi minyak dengan biaya mahal akan mengalami kerugian. Produksi shale oil dengan teknik pengeboran horizontal dan rekah hidrolik dianggap masih terlalu mahal jika dibandingkan dengan produksi oleh negara-negara OPEC, sehingga harga jual yang rendah diharapkan dapat mendorong supply shale oil keluar dari pasar minyak. Hal ini menjadi suatu keunggulan, sebab negara OPEC memiliki fasilitas produksi yang efisien dan biaya produksi yang sangat rendah. Dengan karakteristik ini, mengutip The Economist, negara anggota Timur Tengah dapat menjual minyak dengan untung bahkan pada harga US$2 per barrel. Berikut merupakan perbandingan biaya produksi minyak di beberapa negara:

Negara Biaya Produksi (US$/bbl)
Saudi Arabia 21
Timur Tengah 24
Rusia 26
Meksiko 42
Amerika Selatan/ Eropa/ Eurasia/ Afrika 56
Amerika Utara 60
Teluk Dalam 70
Pasir Tar Kanada 82
Produksi nonkonvensional lainnya 100

 

Tabel 2.1 Perbandingan biaya produksi minyak negara-negara

(Sumber: Forbes)

 

Keputusan untuk bertahan dalam iklim harga minyak yang rendah tentu tidak menjadi pertanyaan jika kita berkaca pada fakta bahwa Saudi Arabia memiliki cadangan minyak yang besar dengan produksi berbiaya rendah dan efisien. Saudi memiliki teknologi produksi yang nyatanya lebih efisien dari teknik produksi AS yang penulis paparkan pada subbab sebelumnya. Hal ini karena Saudi melakukan pengeboran langsung yang mudah untuk dilakukan dengan cara konvensional, tetapi shale oil perlu diekstraksi melalui mekanisme sedemikian rupa karena sumber minyak yang ‘terjebak’ dalam serpihan permeabilitas rendah. Sehingga menurutnya, untuk mengimbangi pasar, supply yang harus dikurangi adalah yang berasal dari produksi dengan biaya tinggi. Seperti yang dinyatakan oleh Menteri Al Naimi, cheap jerseys wholesale bahwa “..inefficient, uneconomic producers will have to get out, that is tough to say, but that’s fact.”

Dalam iklim harga minyak rendah, Saudi juga setidaknya memiliki kapasitas produksi sebesar 2.6 juta barrel per hari¾dua kali lebih besar dari jumlah minyak yang dikeluarkan ke pasar pada pertengahan 2014, ketika Saudi memutuskan untuk menjatuhkan harga minyak dengan sengaja. Dengan kapasitas ini, Saudi menunjukkan bahwa harga rendah tidak menjadi ancaman besar bagi industri minyaknya. Selain itu, Saudi juga menyimpan sejumlah besar uang ketika terjadi oil boom dan memegang cadangan devisa sebesar jumlah PDB-nya. Hal ini mengimplikasikan bahwa meskipun Saudi membekukan anggaran belanja atau tidak meningkatkan pendapatannya, ekonominya masih dapat bertahan pada tingkat harga minyak sebesar US$40-60 untuk setidaknya lima tahun ke depan.

Motif ini juga tentunya didorong oleh keadaan bahwa porsi minyak OPEC menjadi berkurang dengan hadirnya shale oil. Teknik produksi nonkonvensional ini muncul menjadi alternatif sumber energi baru, sehingga mengurangi dependensi terhadap minyak mentah OPEC¾salah satunya adalah pengurangan impor minyak AS secara signifikan. Pada kenyataannya, AS memang kini menjadi produsen besar, namun shale oil juga diproduksi dan mulai dikembangkan oleh sejumlah negara lain seperti Kanada dan negara-negara Uni Eropa. Oleh karena itu, shale oil jelas menjadi tantangan bagi Saudi sebagai produsen terbesar minyak dunia.

 

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan yang sekaligus menjawab pertanyaan pada bab I. Pertama, bahwa keadaan turunnya harga minyak pada tahun 2014 tidak sama dengan pada tahun 1998, terlepas dari pola-pola oversupply dan negative demand yang terjadi dalam pasar. Oversupply pada tahun 2014 mayoritas bersumber dari produksi non-OPEC, yakni shale oil AS, yang kemudian menggeser porsi minyak OPEC dalam pasar. Hal ini tentu mengundang respon kebijakan yang berbeda oleh OPEC, jika dibandingkan dengan oversupply pada tahun 1998 yang memang disebabkan oleh keputusan OPEC untuk meningkatkan kuota produksi.

Kedua, bahwa keputusan untuk tidak memotong produksi pada tahun 2014 sangat kental dengan pertimbangan-pertimbangan negara teluk, khususnya Saudi Arabia. Sebagai major player dalam OPEC dan produsen terbesar minyak dalam pasar, tentu kehadiran shale oil yang mengurangi jumlah impor akan menjadi ancaman bagi Saudi. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan karakteristik negaranya, Saudi menginisiasikan keputusan untuk tidak memotong produksi dan bertahan dalam kompetisi pasar dengan iklim harga rendah. Karakteristik yang mendukung situasi tersebut adalah cadangan minyak Saudi yang besar dan efisiensi produksi yang membuat biaya produksi minyak rendah. Posisi yang tidak terlalu bergantung pada industri minyak sebagai sumber pendapatan utama juga membuat ekonomi Saudi tidak terlalu terganggu¾jika bukan kolaps¾seperti negara-negara OPEC dengan tingkat dependensi tinggi lainnya. Fakta bahwa produksi AS lebih mahal juga menjadi strategi Saudi untuk kemudian menurunkan harga sampai ke titik di mana perusahaan minyak AS tidak mampu lagi membiayai produksi dan keluar dari pasar.

Berdasarkan beberapa kesimpulan di atas, penulis melihat bahwa pembahasan mengenai kebijakan OPEC ini sangat kental dengan kepentingan nasional Saudi sebagai major player dalam pasar minyak. Penulis percaya bahwa minyak merupakan energi yang vital, sehingga kemudian negara-negara dengan akses berlebih akan memanfaatkannya sebagai proyeksi power dalam pasar maupun relasi politik internasional.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

E.L., “Why the oil price is falling,” The Economist, http://www.economist.com/blogs/economist-explains/2014/12/economist-explains-4 (diakses 4 Juni 2016).

David N. Balaam dan Michael Veseth, Introduction to International Political Economy. New Jersey: Prentice Hall (2008).

Nourah Al Yousef, The Dominant Role of Saudi Arabia in the Oil Market from 1997-2010. Riyadh: King Saud University Publisher, (2011).

James Williams, “Oil Price History and Analysis.” WTRG Economics, http://www.wtrg.com/prices.htm (diakses 4 Juni 2016

Chris Pedersen, “5 Reasons Oil Prices are Dropping.” Oil Price, http://oilprice.com/Energy/Oil-Prices/5-Reasons-Oil-Prices-Are-Dropping.html (diakses 4 Juni 2016).

Vinod K. Aggarwal, “The Political Economy of Falling Oil Prices: Implications for Arab Gulf States and the U.S.” The Arab Gulf States Institute in Washington, http://www.agsiw.org/wp-content/uploads/2015/01/AGSIW-The-Political-Economy-of-Falling-Oil-Prices.pdf (diakses 4 Juni 2016).

Hancock, Kathleen J. dan Vlado Vivoda, “A Field Born of the OPEC Crisis Returns to Its Energy Roots.” Academia, https://www.academia.edu/6941206/International_Political_Economy_A_Field_Born_of_the_OPEC_Crisis_Returns_to_Its_Energy_Roots (diakses 5 Juni 2016).

U.S Energy Information Administration, “How Dependent Are We on Foreign Oil?” Energy Information Administration, https://www.eia.gov/energy_in_brief/article/foreign_oil_dependence.cfm (diakses 5 Juni 2016).

Cristiana Belu Manescu dan Galo Nuno, Quantitatuve Effect of Shale Oil Revolution. Working paper No. 1855 of European Central Bank (2015).

Sarah Kent, “U.S Oil Boom Divides OPEC.” The Wall Street Journal, http://www.wsj.com/articles/SB10001424127887323855804578508871186460986 (diakses 5 Juni 2016).

Alex Lawler, “OPEC sees its oil market shrinking as shale contribution grows,” Reuters, http://www.reuters.com/article/us-opec-outlook-idUSKBN0IQ22H20141106 (diakses 5 Juni 2016).

Trisha Curtis, U.S Shale Oil Dynamics in a Low Price Environment, Working paper of The Oxford Institute for Energy Studies (2015).

Alex Lawler, “Inside OPEC Room, Al Naimi Declares Price War on U.S Shale Oil,” Reuters, http://www.reuters.com/article/us-opec-meeting-shale-idUSKCN0JC1GK20141128 (diakses 5 Juni 2016).

James Conca, “U.S Winning Oil War Against Saudi Arabia,” Forbes, http://www.forbes.com/sites/jamesconca/2015/07/22/u-s-winning-oil-war-against-saudi-arabia/#ee24c4e78762 (diakses 5 juni 2016).

 

Tracy Johnson, “Saudi Oil Minister’s Message for High-cost Crude Producers: ‘Get Out’ of Market,” CBC News, http://www.cbc.ca/news/business/saudi-oil-minister-in-houston-1.3459539 (diakses 5 Juni 2016).

Cyrus Sanati, “Saudi Arabia Hangs Tough on Oil in Fight for its Future,” Fortune, http://fortune.com/2015/12/04/saudi-arabia-oil-prices-future/ (diakses 5 Juni 2016).

Vitor Emanuel, “EU Unconventional Resource Development Stalls,” Oil and Gas Journal, http://www.ogj.com/articles/print/volume-114/issue-6/exploration-and-development/eu-unconventional-resource-development-stalls.html


Leave a Reply