Gelas Setengah Penuh: Mengkampanyekan Kerjasama dan Komunikasi Antar Pemuda dalam Komunitas ASEAN

  • 0

Gelas Setengah Penuh: Mengkampanyekan Kerjasama dan Komunikasi Antar Pemuda dalam Komunitas ASEAN

Tags :

Category : Articles , Writings

Oleh: Amy Darajati UtomoMovie A Dog’s Purpose (2017)

 

Bayangkan sebuah gelas, dengan air di dalamnya. Pertanyaan klasik adalah bagaimana mendefinisikan gelas tersebut—gelas setengah kosong atau gelas setengah penuh? Pertanyaan ini penulis rasa patut pula ditanyakan untuk melihat ASEAN Community bagi Indonesia: tantangan atau kesempatan? Tentu, jika ditanyakan demikian, ASEAN Community menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi Indonesia. Ada keunggulan-keunggulan Indonesia yang bisa membantu Indonesia bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya; pun ada hambatan dan tantangan yang harus diselesaikan Indonesia. Akan tetapi, patut dilihat kembali kepada esensi dari pembentukan Komunitas ASEAN—apakah kita benar-benar harus berkompetisi? Bukankah tujuan komunitas ialah untuk membangun masyarakat demi suatu tujuan yang sama? Mengapa kemudian konsepsi ‘kompetisi’ yang ditekankan dibandingkan konsepsi ‘kerjasama’? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan kesimpulan bahwa pemuda seharusnya menjadi motor utama dalam pewujudan Komunitas ASEAN.Movie A Dog’s Purpose (2017)

ESENSI KOMUNITAS ASEAN

ASEAN dibentuk pertama kali oleh lima negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina di tengah ketidakjelasan regional security serta kemiskinan. ASEAN dibentuk atas dasar kerjasama untuk menciptakan perdamaian, kemajuan ekonomi serta pengembangan aspek sosial budaya. Visi tersebut kemudian diterjemahkan melalui grand design mengenai integrasi regional, yaitu ASEAN Vision 2020 yang dicetuskan pada Desember 1997 di KTT Kuala Lumpur, Malaysia. Diharapkan pada tahun 2020 telah tercipta suatu komunitas masyarakat ASEAN yang “people-oriented, people-centered and socially responsible with a view to achieving enduring solidarity and unity among the nations and peoples of ASEAN by forging a common identity and building a caring and sharing society which is inclusive and harmonious, and where the well-being, livelihood, healthy lifestyle, access to healthcare and welfare of the peoples are enhanced.”[1]

KOMPETISI? KERJASAMA!

Melihat visi tersebut, jelas bahwa ASEAN didasarkan pada visi untuk bekerjasama—bukan berkompetisi. Komunitas ASEAN diarahkan untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bersama—sesuatu yang sulit diciptakan jika kita terjebak pada kompetisi dan ingin saling mengalahkan. Komunitas ASEAN, yang akan dimulai dengan Komunitas Ekonomi ASEAN akhir tahun ini, seharusnya dilihat sebagai wadah untuk kerjasama dan komunikasi yang lebih mudah, pasar yang lebih luas, dan terutama kesempatan yang lebih besar—bukan semata kompetisi.

Lalu, pertanyaannya mengapa konsepsi Komunitas ASEAN seperti kental dengan suasanan kompetisi? Menurut penulis, semua ini bisa ditilas balik kepada kegagalan sosialisasi mengenai ASEAN itu sendiri. ASEAN telah lama dikritik sebagai asosiasi yang top-down, elitis. ASEAN juga cenderung elitis, dengan pengabaiannya terhadap stakeholder lain, seperti organisasi masyarakat sipil, akademisi serta komunitas bisnis dan pemuda.[2] Tidak banyak yang mengetahui apa yang terjadi dalam proses pembuatan keputusan di ASEAN—bahkan masih banyak di masyarakat akar rumput sendiri yang tidak mengetahui apa itu ASEAN, untuk apa ada ASEAN? Ini tentu berlawanan dengan visi dari ASEAN untuk menjadi komunitas yang people-centered. Bagaimana bisa, saat masyarakat bahkan tidak mersa dilibatkan, tidak saling mengenal satu sama lain?

Ketidaktahuan mengenai ASEAN ini kemudian bisa jadi membuat kaget masyarakat saat beredar kekhawatiran mengenai Komunitas Ekonomi ASEAN. Ini terbukti dari kekhawatiran umum di kalangan pemuda ASEAN mengenai ketersediaan lapangan pekerjaan, apalagi jika harus bersaing dengan pemuda dari negara ASEAN lain.[3] Terasa bagaimana kita seperti melihat satu sama lain sebagai musuh, bukan bagian dari komunitas yang sama. Padahal, bisa saja kita melihat Komunitas ASEAN sebagai kesempatan untuk mendapatkan teman dan saudara baru yang tersebar di ASEAN. Sayangnya, kita belum memiliki unsur “we-ness”, masih sulit untuk membayangkan ASEAN sebagai imagined community dengan kondisi seperti ini.[4]

Memang, tidak mudah untuk menyatukan ASEAN, karena kita sendiri memiliki latar belakang politik, sosial dan ekonomi yang begitu berbeda. Dari segi kebudayaan pun terdapat keberagaman antar sepuluh negara tersebut yang terbukti menyulitkan proses integrasi dan pembentukan identitas regional.[5] Akan tetapi, dengan dimulainya Komunitas ASEAN tahun 2015 ini, mau tidak mau kita harus melakukan sesuatu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Sulit untuk bekerjasama, menjadi bagian dari satu komunitas jika kita tidak mengerti esensi dari komunitas tersebut—jika semua hanyalah inisiatif dari elit. Integrasi regional hanya bisa dikatakan berhasil jika “citizens perceive it as the system they would strive to become part of and prosper within.”[6] Oleh karena itu, diperlukan penguatan nilai-nilai ASEAN dan sosialisasi tentang ASEAN itu sendiri untuk mewujudkan Komunitas ASEAN yang terintegrasi. Disinilah peran pemuda menjadi penting.

 

PERAN PEMUDA

Tentu telah banyak literatur dan pepatah memuja pemuda; sebagai pemimpin masa depan, agen perubahan. Tak kurang dari Presiden pertama kita Bung Karno meyakini bahwa hanya dibutuhkan sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia. Jumlah pemuda ASEAN yang mencakup 60 persen dari total seluruh populasi di ASEAN tentu lebih dari cukup untuk memulai perubahan dan inovasi. Untuk mewujudkan Komunitas ASEAN, oleh karena itu, dibutuhkan pemuda ASEAN yang saling mengenal, dan melihat Komunitas ASEAN sebagai peluang dan kesempatan, yang menjadi motor dalam memperkuat jalinan ASEAN. Hal ini dikarenakan pembentukan Komunitas ASEAN bukanlah sesuatu yang bisa dikomando, melainkan harus berdasarkan inisiatif akar rumput.

Salah satu contoh dari inisiatif pemuda adalah Asean Youth Center (AYC) di Desa Panawuan, Garut, didirikan oleh Kang Hanif. Desa Panawuan sendiri telah sukses menjadi Wholesale nfl Jerseys tuan rumah International Youth Forum (IYF) pada 2008, menghadirkan jordan retro 11 250 partisipan dari 32 negara. Setelah IYF, Panawuan mulai banyak menerima kunjungan warga negara asing. Kang Hanif lalu mendengar rencana Kemenpora untuk membangun sebuah pusat kemepudaan ASEAN. Panawuan pun diajukan ke program tersebut, dan AYC pun dibangun. AYC bertujuan untuk menyiapkan para pemuda untuk menyambut Komunitas ASEAN. Kang Hanif mengakui kurangnya pemahaman mengenai ASEAN di kalangan pemuda, terutama pemuda-pemuda desa di kota kecil. Oleh karena itu, AYC berusaha mempersiapkan para pemuda untuk menyambut Komunitas ASEAN, diantaranya melalui English Development Center (EDC). Melalui EDC, para pemuda dididik untuk bisa lancar berbahasa Inggris. Selain itu informasi seputar ASEAN juga banyak disebarkan kepada para pemuda, baik secara langsung, maupun di dunia maya lewat berbagai media sosial. AYC juga sering dipergunakan oleh para pemuda Garut untuk berdiskusi atau berkegiatan, yang oleh AYC juga diberikan sosialisasi mengenai ASEAN. [7]

Selain itu, terdapat pula ASEAN Youth Expo yang diadakan pada 2014, dimana 40 orang pemuda dari seluruh ASEAN terpilih berkumpul di Jakarta dan berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan yang menekankan pada community building. AYE sendiri bertujuan untuk meningkatkan relasi antar negara ASEAN melalui cheap jordans online pemudanya. Terdapat cultural expo yang diisi oleh booth yang dikreasikan sendiri oleh para delegasi, dengan masing-masing booth merepresentasikan kekayaan budaya yang dimiliki oleh negaranya. Selain mengisi booth dengan barang-barang yang merepresentasikan kebudayaan dari negara mereka, para delegasi terpilih juga menampilkan wholesale jerseys china kebudayaan negara mereka. Ada yang menampilkan tarian tradisional, menyanyikan lagu daerah, memperagakan permainan tradisional, fashion show pakaian adat, dan bela diri tradisional. Kesemuanya itu ditujukan untuk memperkenalkan kebudayaan dari masing-masing negara ASEAN kepada para pengunjung yang datang dengan cara yang mengasyikkan.[8]

 

Dua inisiatif pemuda tersebut menunjukkan bahwa pemuda bisa dan mampu mengkampanyekan mengenai ASEAN. Memang dalam inisiatif AYC sendiri terdapat usaha untuk mempersiapkan diri menghadapi Komunitas ASEAN—yaitu dengan mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris. Akan tetapi, baik AYC dan AYE sama-sama berangkat dari satu ide dasar: pengenalan tentang ASEAN, bahwa kita adalah bagian dari Komunitas ASEAN dan keberagaman ASEAN memperkaya kita. Persiapan memang harus kita lakukan untuk bisa mendapatkan keuntungan dari Komunitas ASEAN. Akan tetapi, lebih dari sekedar bersaing dan berkompetisi, Komunitas ASEAN seharusnya dipandang sebagai suatu kesempatan untuk memperkaya khasanah kehidupan kita. Pemuda ASEAN lainnya seharusnya bukan dianggap sebagai kompetitor—melainkan saudara, teman, dan partner dalam mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama dalam Komunitas ASEAN. Ini memang terkesan normatif, bahkan bisa jadi cenderung naif. Tetapi itulah esensi dari ASEAN dan Komunitas ASEAN itu sendiri—ada alasan kenapa dinamakan Komunitas ASEAN, bukan Kompetisi ASEAN. Masih banyak yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, dan pemuda haruslah menjadi motor utama dalam bersama-sama memenuhi gelas setengah penuh yang bernama Komunitas ASEAN.

 

FOOTNOTE

[1] Benny Teh Cheng Guan, “ Time for a Reevaluation of ASEAN’s Role” The Diplomat. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://thediplomat.com/2015/09/time-for-a-reevaluation-of-aseans-role/

[2] Julio S. Amador III. “ASEAN Socio-Cultural Community : An Assessment of Its Institutional Prospects” dalam Foreign Service Institute, เลนส์ตาเหมือนกล้องถ่ายรูป hal 34

[3] The Habibie Center, Talking ASEAN on Youth Perspective. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://www.thcasean.org/read/news/150/Talking-ASEAN-on-Youth-Perspective

[4] Amador III, 2011, hal. 34-36

[5] Amador III, 2011, hal. 2-4

[6] Sueo Sudo, Forging An ASEAN Community : Its Significance, Problems, and Prospects. No. 146, hal. 21

[7] Jelajah Garut, Kang Yusran Hanif: Dari Desa untuk Masyarakat ASEAN. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://www.jelajahgarut.com/kang-yusran-hanif-dari-desa-untuk-masyarakat-asean/

[8] Youth Proactive, ASEAN Youth Expo 2014: Cara Asik Mengenal ASEAN. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://youthproactive.com/news-features/asean-youth-expo-2014-cara-asik-mengenal-asean/

 

DAFTAR REFERENSI

Amador III, Julio S. (2011) “ASEAN Socio-Cultural Community : An Assessment of Its Institutional Prospects” dalam Foreign Service Institute, hal 34

Guan, Benny Teh Cheng. (2015) “ Time for a Reevaluation of ASEAN’s Role” The Diplomat. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://thediplomat.com/2015/09/time-for-a-reevaluation-of-aseans-role/

Jelajah Garut, Kang Yusran Hanif: Dari Desa untuk Masyarakat ASEAN. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://www.jelajahgarut.com/kang-yusran-hanif-dari-desa-untuk-masyarakat-asean/

Sudo, Sueo. (2005) Forging An ASEAN Community : Its Significance, Problems, and Prospects. No. 146, hal. 21

The Habibie Center. (2014).Talking ASEAN on Youth Perspective. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://www.thcasean.org/read/news/150/Talking-ASEAN-on-Youth-Perspective

Youth Proactive.(2014). ASEAN Youth Expo 2014: Cara Asik Mengenal ASEAN. Diakses pada 26 November 2015 melalui http://youthproactive.com/news-features/asean-youth-expo-2014-cara-asik-mengenal-asean/

 


Leave a Reply